JAKARTA – Pengurus Besar Inisiator Perjuangan Ide Rakyat (PB INSPIRA) memberikan apresiasi kepada Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto, atas gebrakan masif dalam menggencarkan pemberantasan peredaran narkotika pada program strategis 100 hari kerja pertama kepemimpinannya.
Operasi kepolisian secara beruntun berhasil membongkar sindikat narkotika skala internasional di Tanah Air yang sukses membuka mata publik tentang ganasnya pertempuran melawan barang haram. Gebrakan masif tersebut mencakup pencegatan kapal kargo berbendera Mongolia di Belawan, penyitaan berton-ton sabu di perairan Batam, hingga penggerebekan laboratorium rahasia di Aceh.
Merespons kinerja luar biasa tersebut, Ketua Umum PB INSPIRA, Rizqi Fathul Hakim, menyatakan bahwa kepemimpinan 100 hari kinerja Kapolri Suyudi menunjukkan hasil yang signifikan dengan membongkar beberapa kasus narkoba skala besar dimulai dari penggerebekan kampung narkoba, kasus sabu blue ice, hingga pembongkaran sindikat di Sumatera Utara. “Pengungkapan kasus narkotika adalah bagian dari upaya menyelamatkan generasi muda dan masa depan bangsa. Kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto dalam 100 hari kerja pertama menunjukkan capaian yang sangat signifikan sehingga beliau menjadi orang yang paling gencar memburu bandar narkoba dari tingkat nasional maupun internasional” ujar Rizqi Fathul Hakim dalam keterangan resminya, Selasa (26/10/2026).
Di Pidie, Aceh, tim gabungan Polri, BNN, dan Bea Cukai mencatatkan sejarah dengan menggerebek clandestine lab atau laboratorium gelap narkotika terbesar di Indonesia. Pengungkapan yang bermula dari pengembangan informasi intelijen sejak 21 Oktober ini berujung pada penyitaan barang bukti fantastis berupa 1,2 ton sabu jenis blue ice dari lima lokasi berbeda di wilayah Aceh.
Tak berhenti di situ, kewaspadaan tinggi aparat di jalur laut perairan Sumatera Utara juga berhasil memutus mata rantai penyelundupan internasional yang menyasar masyarakat. Tim gabungan sukses mengamankan 1,16 ton obat keras jenis ketamin HCl yang disembunyikan dalam 58 karung di atas kapal tanker lambung MT Global 168 berbendera Mongolia yang terdeteksi dari Malaysia.
Penangkapan pada Senin (19/10) itu berawal dari temuan anomali sinyal Automatic Identification System (AIS) sehari sebelumnya, di mana kapal memancarkan dua identitas dan bergerak melambat di Laut Andaman. Penyitaan 1,16 ton ketamin di Perairan Sumatera Utara tersebut memiliki nilai ekonomis yang sangat fantastis, yakni ditaksir setara dengan Rp 3,48 triliun. Angka ini didapat dari perhitungan asumsi harga pasar gelap saat ini yang mencapai Rp 3 juta per gram, menunjukkan betapa besarnya daya rusak finansial dari sindikat narkoba.
Lebih jauh, penangkapan ini turut mencegah kerugian negara dan masyarakat dari segi total biaya rehabilitasi yang mencapai angka Rp 116 triliun. Dari sisi potensi penyelamatan nyawa, penyitaan ketamin ini diasumsikan telah berhasil menyelamatkan sekitar 5,8 juta jiwa generasi penerus bangsa dari bahaya ketergantungan.
Fakta tersebut membuktikan bahwa peredaran gelap narkoba merupakan ancaman paling nyata bagi masa depan penerus bangsa jika tidak dihadapi dengan langkah tanpa kompromi. Untuk memastikan upaya ini menyeluruh, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto secara tegas menginstruksikan seluruh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) untuk memetakan dan menindak tegas kampung hingga bandar narkoba. Hal ini diwajibkan guna memutus mata rantai pasokan dan peredaran narkoba yang masih menjadi masalah krusial di berbagai wilayah hukum di Indonesia.
Keberhasilan aparat dalam membongkar pabrik dan menggagalkan penyelundupan laut ini dinilai harus menjadi momentum penindakan yang berkesinambungan. ”Pengungkapan jumlah besar dalam satu pekan ini harus diapresiasi. Bahwa perhatian Kapolri terhadap ancaman narkoba diwujudkan melalui kerja penegakan hukum yang konkret dan terukur,” tegas Rizqi Fathul Hakim.
Pada akhirnya, penindakan tegas terhadap bandar dan jaringan pengedar memang harus berjalan beriringan dengan pencegahan sejak dini dan pengetatan jalur masuk. Benteng pertahanan terbaik melawan narkoba adalah menjaga ruang tumbuh para pemuda tetap steril melalui edukasi yang melibatkan keluarga, lembaga pendidikan, elemen pemuda, dan masyarakat.
